Kamis, 04 Desember 2008

ikhlas

RUH AMAL ITU ADALAH IKHLAS


"Ada beraneka ragam jenis amal menurut situasi
dan kondisi yang masuk kedalam hati manusia.
Kerangkanya adalah perbuatan yang jelas,
sedangkan ruhnya adalah ikhlas."



Tanda dari semua kemakrifatan dan sifat al ihsan kepada Allah tidak
lain adalah tekun dan rajin beribadah. Itu semua dilaksanakan menurut
kehendak dan niat tiap hamba. Memperbanyak amal ibadah juga menurut
kemauan dan kemampuan hamba itu sendiri-sendiri. Ada yang bagus
sholatnya, ada yang bagus puasanya, ada yang bagus wiridnya, adapula
yang bagus sedekah dan infaknya. Disamping itu ada pula yang tekun
mempelajari ilmunya.

Amal ibadah itu terikat dengan niat seseorang, dan ia berlaku sesuai
dengan niat pula. Hasil dari suatu amal ibadah ditentukan oleh bagai-
mana seseorang menempatkan niat dalam hatinya ketiak ia beramal ibadah.

Amal ibadah yang kuat tegaknya dan kokoh ikatannya dengan iman ialah
dilaksanakan oleh hatinya yang ikhlas. Karena ikhlas adalah roh amal
dan amal itu menunjukkan tegaknya iman. Ikhlas beramal menunjukkan
bagaimana seseorang hamba menyatakan dirinya di hadapan Allah ketika
beribadah. Serta menghidupkan ikhlas sebagai salah satu syarat dalam
beramal. Amal ibadah yang ikhlas ilaha dengan melaksanakan semata-mata
karena Allah belaka. Beribadah karena Allah dan memohon pertolongan
hanya kepada-Nya.
Dalam Al-Qur'an disebutkan," Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu,
dan kami tidak menyekutukan Engkau dalam ibadah kami". Pernyataan
ibadah yang ikhlas ini menjadi syarat diterimanya ibadah seorang hamba.

Adapun lawan dari ikhlas itu riya' yang bersifat khafi (ringan) atau
jelas-jelas berbuat riya' berat. Sedang sifat riya' akan merusak iman,
karena temasuk sifat syirik walaupun ringan. Riya' umumnya melakukan
amal ibadah dengan rasa bangga diri dan angkuh. Suka mempertontonkan
amal untuk mencari puji sanjungan manusia.

Ikhlas yang tidak disertai sifat riya', semata-mata hanya karena Allah.
Amal dan ihklas itu ada dua cara. Pertama, beramal karena Allah, tidak
ada sandaran amal selain karena Allah Ta'ala belaka. Inilah sifat ahli
ibadah. Kedua, beribadah atas kehendak Allah sesuai dengan tata tertib-
nya dan peraturan Allah, ini adalah sifat hamba Allah.

Imam Abi Qasim Al Qusyairy menerangkan dua kedudukan ini dengan
penjelasan bahwasanya hal ini menunjukkan dua kedudukan yang saling
menjelaskan di antara keduanya. Kedua hal ini sebenarnya tidak saling
bertentangan, karena yang pertama adalah raganya ibadah, berupa hukum,
dan kedua adalah jiwanya ibadah, berwujud ikhlas.

Tidak ada komentar: